Kendari – Universitas Muhammadiyah Kendari, khususnya Fakultas Peternakan, kembali membuktikan komitmennya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Pada kesempatan kali ini, penelitian inovatif yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa Fakultas Peternakan berhasil mengembangkan formula pakan ternak yang ramah lingkungan berbasis limbah perikanan. Terobosan ini tidak hanya menjawab tantangan sustainability, tetapi juga membuka peluang ekonomi sirkular bagi pelaku usaha peternakan di Sulawesi Tenggara.
Penelitian yang dimulai sejak Januari 2025 ini melibatkan kolaborasi intensif antara Dr. Ir. Bambang Suryanto, M.Si. sebagai ketua peneliti, didampingi oleh Dr. Ir. Siti Nurhaliza, M.P., serta sejumlah mahasiswa dari Program Studi Peternakan angkatan 2023 dan 2024. Tim peneliti memilih fokus pada pemanfaatan limbah kepala dan tulang ikan hasil olahan industri perikanan yang selama ini dianggap sebagai limbah organik yang berpotensi mencemari lingkungan.
“Kami melihat suatu masalah yang sekaligus merupakan peluang besar,” ujar Dr. Bambang Suryanto dalam wawancara eksklusif di Laboratorium Nutrisi Ternak Fakultas Peternakan Unismuh Kendari, Selasa (03/04/2026). “Kendari sebagai kota maritim memiliki industri perikanan yang sangat berkembang. Setiap harinya, ribuan ton limbah perikanan dihasilkan. Limbah ini jika tidak ditangani dengan baik dapat mencemari lingkungan perairan dan lahan. Namun, jika dikelola dengan tepat, limbah ini adalah goldmine untuk pengembangan pakan ternak yang berkualitas tinggi dan berkelanjutan.”
### Latar Belakang dan Pentingnya Riset
Kendari, sebagai salah satu pusat perikanan terbesar di kawasan Sulawesi Tenggara, menghasilkan volume limbah perikanan yang sangat signifikan setiap tahunnya. Data dari Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan bahwa lebih dari 60.000 ton limbah perikanan dihasilkan per tahun, dengan tingkat pemanfaatan masih di bawah 15 persen. Limbah ini mayoritas berasal dari kepala ikan, sisik, tulang, dan organ internal yang tidak digunakan dalam proses pengolahan ikan komersial.
Di sisi lain, industri peternakan di Sulawesi Tenggara terus berkembang, khususnya peternakan sapi potong, unggas, dan kambing. Pertumbuhan ini menciptakan permintaan pakan ternak yang semakin meningkat setiap tahunnya. Namun, pasokan pakan berkualitas yang terjangkau masih menjadi kendala utama bagi para peternak, terutama peternak skala menengah dan kecil. Harga pakan konvensional yang terus naik seiring dengan fluktuasi harga global menjadi beban ekonomi yang signifikan bagi pelaku usaha peternakan lokal.
“Ini adalah challenge yang harus kita atasi sebagai akademisi,” lanjut Dr. Siti Nurhaliza, yang menjadi anggota tim peneliti sekaligus ketua Program Studi Peternakan. “Kami memiliki tanggung jawab tidak hanya untuk menghasilkan penelitian berkualitas, tetapi juga penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal. Ketika kami melihat dua masalah ini – limbah perikanan yang berlebihan dan kebutuhan pakan ternak yang tinggi – kami menyadari bahwa Fakultas Peternakan harus menjadi jembatan yang menghubungkan kedua sektor ini.”
### Metodologi dan Proses Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan metodologi yang komprehensif dan terstruktur. Tim peneliti melakukan analisis proksimat terhadap limbah perikanan, termasuk kandungan protein, lemak, serat kasar, dan mineral. Hasil analisis menunjukkan bahwa limbah kepala dan tulang ikan memiliki kandungan protein crude sebesar 45-52 persen, jauh melampaui ekspektasi awal tim peneliti.
“Saat kami mendapat hasil analisis proksimat, tim langsung excited,” kenang Dwi Kusuma Wardani, mahasiswa semester 7 Program Studi Peternakan yang terlibat langsung dalam penelitian. “Karena kandungan proteinnya sangat tinggi. Setelah itu, kami mulai melakukan percobaan perumusan pakan dengan berbagai komposisi limbah perikanan, ditambah dengan bahan-bahan lokal lain seperti dedak padi, umbi-umbian, dan mineral organik.”
Fase kedua penelitian melibatkan pengujian in vivo (pengujian langsung pada ternak). Tim peneliti melakukan feeding trial (uji coba pemberian pakan) selama 12 minggu terhadap 90 ekor ayam broiler yang dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan. Kelompok kontrol diberikan pakan konvensional standar, sementara dua kelompok lainnya diberikan pakan formula baru dengan persentase limbah perikanan yang berbeda.
“Hasilnya sangat memuaskan,” tambah Dwi Kusuma. “Kelompok yang diberi pakan inovatif kami menunjukkan pertumbuhan yang tidak signifikan berbeda dengan kelompok kontrol, bahkan dari segi efisiensi pakan, kelompok perlakuan sedikit lebih baik. Yang paling penting, feed cost-nya jauh lebih rendah, sekitar 18-23 persen lebih murah.”
### Inovasi dan Keunggulan Kompetitif
Keunggulan penelitian ini terletak pada beberapa aspek inovatif yang membedakannya dari penelitian sejenis sebelumnya. Pertama, formula pakan yang dikembangkan tidak hanya memanfaatkan limbah perikanan, tetapi juga mengintegrasikan proses fermentasi yang meningkatkan bioavailabilitas nutrisi. Tim peneliti menggunakan teknik solid-state fermentation dengan menggunakan mikroorganisme lokal yang diisolasi dari lingkungan Kendari sendiri.
Kedua, penelitian ini mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan secara menyeluruh. Selain memanfaatkan limbah perikanan, formula pakan juga meminimalkan penggunaan bahan pangan yang kompetitif dengan konsumsi manusia, seperti jagung dan kedelai. “Ini adalah circular economy yang sesungguhnya,” jelas Dr. Bambang Suryanto. “Limbah dari satu industri menjadi input berharga untuk industri lain, menciptakan value chain yang menguntungkan semua pihak dan ramah lingkungan.”
Ketiga, aspek ekonomi menjadi fokus utama dalam pengembangan teknologi ini. Tim peneliti melakukan analisis cost-benefit analysis yang komprehensif, memastikan bahwa formula pakan yang dikembangkan tidak hanya secara teknis viable, tetapi juga secara ekonomis feasible untuk diterapkan oleh peternak skala menengah dan kecil. Hasil analisis menunjukkan bahwa adopsi pakan inovatif ini dapat menghemat biaya produksi hingga 25 persen tanpa mengorbankan kualitas output ternak.
### Respon Pejabat Kampus
Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari, Prof. Dr. H. Muhammad Ridho, S.H., M.H., memberikan apresiasi tinggi terhadap pencapaian ini. Dalam keterangan resmi yang diberikan kepada tim redaksi kampus, Prof. Ridho menyatakan komitmen institusional untuk terus mendukung penelitian-penelitian aplikatif yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Penelitian Dr. Bambang Suryanto dan Dr. Siti Nurhaliza, bersama mahasiswa-mahasiswa berbakat mereka, mencerminkan visi Unismuh Kendari untuk menjadi universitas yang tidak hanya mengedepankan excellent dalam penelitian dan pendidikan, tetapi juga berorientasi pada pengabdian masyarakat yang substantif,” ujar Prof. Ridho dalam statement tertulis. “Kami akan terus mengalokasikan sumber daya, baik finansial maupun infrastruktur, untuk mendukung penelitian-penelitian like this yang memiliki potensi komersial dan dampak sosial yang signifikan.”
Lebih lanjut, Prof. Ridho juga menginformasikan bahwa universitas telah mengajukan hak paten untuk formula pakan inovatif ini kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. “Kami ingin memastikan bahwa intellectual property dari riset mahasiswa dan dosen kami terlindungi, sekaligus membuka peluang untuk licensing atau joint venture dengan industri pakan ternak yang ada,” jelasnya.
Dekan Fakultas Peternakan, Dr. Ir. Ahmad Syafruddin, M.Si., juga memberikan pernyataan mendukung. “Ini adalah momentum penting bagi Fakultas Peternakan untuk menunjukkan bahwa kami bukan hanya institusi pendidikan, tetapi juga pusat inovasi yang mampu menghasilkan teknologi yang berguna,” katanya. “Ke depannya, kami berencana untuk memperluas penelitian ini ke aspek-aspek lain, misalnya aplikasi pada ternak ruminansia dan perikanan budidaya.”
### Dampak dan Prospek Implementasi
Penelitian ini telah menarik perhatian berbagai stakeholder eksternal, termasuk asosiasi peternak dan industri pakan ternak. Beberapa perusahaan pakan lokal telah menunjukkan minat untuk berkolaborasi dalam pengembangan formula ini ke skala produksi komersial. PT Maju Jaya Ternak Indonesia, salah satu produsen pakan terbesar di Sulawesi Tenggara, telah melakukan diskusi formal dengan tim peneliti untuk kemungkinan lisensi teknologi.
“Kami sangat tertarik dengan teknologi ini karena beberapa alasan,” ujar Ir. Hendra Wijaya, Direktur PT Maju Jaya Ternak Indonesia, dalam pertemuan dengan tim peneliti pada Maret lalu. “Selain potensi penghematan cost yang signifikan, produk ini juga memiliki unique selling proposition yang kuat di pasar, terutama di kalangan peternak yang environmentally conscious. Kami berkomitmen untuk membantu scaling up penelitian ini dan membawa produk ini ke pasar dalam waktu tidak lebih dari 18 bulan.”
Prospek implementasi di tingkat peternak lokal juga sangat menjanjikan. Program Studi Peternakan telah menjalin kerjasama dengan beberapa kelompok tani ternak di daerah sekitar Kendari untuk melakukan demonstrasi dan pelatihan penggunaan pakan inovatif ini. Respons awal dari peternak sangat positif, dengan permintaan untuk mengadakan workshop dan training yang lebih luas.
“Ketika saya lihat sendiri hasilnya pada ayam-ayam saya, saya langsung percaya,” ujar Bapak Mujiono (65), salah seorang peternak ayam broiler di Kelurahan Wawu, Kendari, yang menjadi early adopter. “Pertumbuhannya seimbang, bahkan mungkin lebih sehat. Dan yang paling penting, biaya pakannya jauh lebih hemat. Ini bisa membuat margin profit saya lebih baik.”
### Tantangan dan Upaya Keberlanjutan
Meskipun penelitian ini telah menunjukkan hasil yang sangat promising, tim peneliti juga mengakui adanya beberapa tantangan yang perlu diatasi untuk memastikan keberlanjutan dan scaling-up penelitian ini. Salah satu tantangan utama adalah konsistensi dan stabilitas supply limbah perikanan. “Meskipun volume limbah perikanan sangat besar, komposisinya fluktuatif tergantung pada musim dan jenis ikan yang ditangkap,” jelas Dr. Siti Nurhaliza. “Kami sedang mengembangkan metodologi standardisasi limbah perikanan agar formula pakan yang dihasilkan konsisten dalam kualitas nutrisi.”
Tantangan lainnya adalah edukasi dan sosialisasi kepada peternak mengenai teknologi baru ini. “Peternak lokal cenderung conservative dalam hal adopsi teknologi baru,” kata Dr. Bambang Suryanto. “Oleh karena itu, kami juga fokus pada pendekatan yang lebih human-centric, dengan mendatangi langsung peternak, memberikan demonstrasi praktis, dan membangun kepercayaan melalui hasil nyata.”
Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, tim peneliti telah mengajukan proposal pendanaan lanjutan kepada beberapa sumber, termasuk BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dan Kementerian Pertanian. Mereka juga sedang mengembangkan rencana untuk mendirikan demo plot dan training center di Fakultas Peternakan yang bisa menjadi pusat pembelajaran dan inkubasi bagi mahasiswa dan peternak lokal.
### Implikasi Akademik dan Pendidikan
Penelitian ini juga memberikan nilai tambah yang signifikan dalam konteks pendidikan dan pengembangan mahasiswa. Sebanyak 8 mahasiswa Program Studi Peternakan telah terlibat langsung dalam berbagai tahap penelitian ini, mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan lapangan, hingga analisis data dan publikasi hasil. Pengalaman ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan konsep-konsep teoritis yang mereka pelajari dalam kelas ke dalam konteks penelitian nyata yang relevan dengan dunia praktis.
“Melibatkan mahasiswa dalam penelitian seperti ini sangat penting untuk membentuk research mindset mereka sejak dini,” ujar Dr. Siti Nurhaliza. “Mahasiswa tidak hanya belajar tentang metode penelitian, tetapi juga belajar tentang problem-solving, critical thinking, dan entrepreneurship. Ini adalah kompetensi yang sangat dibutuhkan di dunia kerja modern.”
Hasil penelitian ini juga telah menghasilkan sejumlah publikasi ilmiah. Sebuah artikel telah dipublikasikan dalam Journal of Animal Science and Technology (terindeks SCOPUS), dan beberapa artikel lainnya sedang dalam proses review di berbagai jurnal nasional terakreditasi. Selain itu, tim peneliti juga telah mempresentasikan hasil penelitian ini di beberapa seminar dan konferensi ilmiah nasional, mendapatkan feedback positif dari para ahli di bidang nutrisi ternak dan sustainable agriculture.
### Penutup dan Visi Masa Depan
Penelitian inovatif yang dilakukan oleh Fakultas Peternakan Universitas Muhammadiyah Kendari ini menunjukkan bahwa institusi pendidikan tinggi memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan solusi untuk tantangan-tantangan kompleks yang di